Budaya Instan membentuk generasi instan
By. Eka Erawati S.Psi
Ketika kita amati kegitan dari bangun tidur samapi menjelang tidur di era teknologi, hampir semua tersaji secara instant. Mulai makanan, sandang, dan papan (rumah). Dalam hal makanan, rata-rata sudah tersaji secara instan. Bubur instan, mi instan, bumbu instan, lauk-pauk instan, sehingga tidak perlu direpotkan dengan sejumlah langkah-langkah memasak yang bisa memakan waktu lebih lama. Dalam hal sandang, mesin-mesin konveksi memungkinkan produksi masal tanpa harus susah mengolah kapas dan menenun. Bahkan kita tinggal pakai dengan menentukan ukurannya. Demikian juga rumah, semakin maraknya bisnis properti, pilihan untuk menentukan rumah hanya tinggal menentukan kemampuan digit angka harga rumah, tanpa perlu mengukur tanah dan menentukan disain sendiri.
Terlepas dari dampak negatif produk instan terhadap kesehatan dan kerusakan lingkungan, yang perlu diperhatikan lagi adalah dampaknya terhadap pembentukan kepribadian generasi di masa yang akan datang. Karena semua serba tersaji dengan cepat, full service, anak-anak kita terbiasa untuk mendapatkan keinginannaya juga dengan instan. Misalnya bagaimana bisa mendapat nilai yang bagus, tidak usah susah-susah belajar, cukup punya trik mencontek cara aman dan cepat. Atau mengikuti sejumlah bimbel yang menawarkan rumus-rumus cepat dan praktis. Maka tidak heran jika sejumlah lembaga pendidikan menawarkan janji-janjinya melalui pencapaian angka 100 % kelulusan atau danem tertinggi sebagai daya tarik bagi calon siswa baru.
Generasi instan memiliki ciri-ciri hidup serba pragmatis. Mereka kehilangan karakter budaya yang mengajarkan nilai-nilai perjuangan dan kesabaran. Tidak terasa sebenarnya ini adalah perbudakan gaya baru. Perbudakan oleh teknologi dan segala produknya terhadap hidup kita. Mungkin jika ada pemadaman llistrik selama satu minggu tidak bisa dibayangkan betapa paniknya warga. Karena hampir semua peralatan yang ada di rumah dan segala jenis kebutuhannya tergantung pada listrik. Mulai dari pengolahan makanan, air minum, strika, mesin cuci, komputer, internet, HP, dll. Begitu tidak merdekanya hidup kita tanpa listrik.
Sebagai sebuah produk peradaban, kita tetap menghargai segala bentuk teknologi yang memudahkan penyajian kebutuhan hidup sehari-hari. Hanya saja perlu juga diajarkan pada generasi kita terutama anak-anak, bahwa ada banyak tahap sebuah teknologi menjadi siap pakai. Ajaklah berpikir bagaimana sebuah HP, bisa mengeluarkan suara, mengirim peasn, merekam gambar. Alat apa saja yang dipakai, siapakah yang mengatur sinyal,…dll. Penelusuran-penelusuran ini akan membantu anak memahami bahwa kemudahan fasilitas itu memerlukan proses.Demikian pula ketika dihubungkan dengan nilai-nilai kehidupan. Untuk mencapai cita-cita, mengejar impian, dibutuhkan kerja keras dan tahap-tahap yang sulit.Tinggal bagaimana memasukkan apa arti sabar, jujur,tawakkal, syukur, sebagai pengawal proses kehidupan yang dia jalani.


